Minggu, 24 Juni 2012

KAJIAN SASTRA PEMAHAMAN UNSUR-UNSUR PUISI


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendegar istilah sastra atau karya sastra: prosa atau puisi. Dengan membaca karya sastra, kita akan memperoleh “sesuatu” yang dapat memperkaya wawsan dan/atau meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Banyak orang terharu, terenyuh, atau terpukau ketika menikmati seuntai sajak atau puisi. Segi apakah yang menyebabkan puisi menarik perhatian orang? Berdasarkan penafsiran subjektif, jawaban pertanyaan itu dapat beraneka ragam. Persoalan yang dikemukakkan atau bentuk penyajian dapat menjadi pemyebab keindahan puisi. Namun, pada dasarnya isi dan bentuk atau tema dan struktur secara bersama-sama menjalin keindahan puisi. Kedua aspek itu merupakan kesatuan yang utuh yang saling mendukung, keserasian antara bunyi yang merdu, imajinasi yang dibangun, pemikiran yang dituangkan, watak yang dimunculkan, dan majas khas yang digunakan merupakan ramuan keapikan puisi.
Meskipun puisi dibentuk oleh banyak unsur, dalam kenyataannya sering hanya satu atau beberapa unsur yang menonjol. Keindahan unsur yang mencuat itulah yang acapkali dijadikan dasar jawaban atau pertanyaan mengenai hal itu. Pesona puisi ini dapat terjadi karena,  iramanya yang dominan.
Karya satra yang baik senantiasa mengandung nilai (Volue). Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra, yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema, dan amanat atau di dalam larik, rima, dan irama.Nilai yang terkandung dalam karya sastra itu adalah, nilai hedonic, nilai artistik, nilai kultural, nilai etis, moral, atau agama, nilai praktis.

1.2 Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah pengertian puisi?
2. Apa sajakah unsur-unsur puisi?
3. Bagaimakah unsur fisik puisi?
4. Bagaimanakah pemahaman unsur sosiopsikologis dalam puisi?
5. Bagaimanakah struktur batin puisi?

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut.
1. dapat memahami pengertian puisi,
2. dapat mengetahui unsur-unsur  puisi,
3. mengetahui struktur batin puisi, dan
4. mengetahui unsur-unsur sosiopsikologis dalam puisi,
5. bisa menerapkan contoh batin puisi.











BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Puisi

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dikutip Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.
1)   Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang    terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
2)   Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
3)  Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
4)  Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
5)  Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Ada juga yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan.

2.2  Unsur-Unsur dalam Puisi

 Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut. Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik. Larik atau baris mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat bait, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi. Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan. Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.
 Struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
1.      Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
2.      Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
3.      Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
4.      Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
5.      Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
6.      Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup,
1)     onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.)
2)     bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya (Waluyo, 187:92)
3)     pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

3. Pemahaman Unsur Sosiopsikologis dalam Puisi
            Salah satu unsur yang terkandung dalam puisi adalah unsur kehidupan sosial budaya serta ragam sikap penyair terhadapnya. Dalam hal ini, pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami unsur-unsur itu adalah pendekatan sosiopsikologis. Bila dalam kajian ini objek kajian lewat pendekatan sosipsikologis tersebut adalah puisi, hal itu bukan berarti bahwa prosa fiksi tidak dapat dijadikan obyek pembahasan.

2.3.1  Hubungan Antara Kehidupan Sosial Masyarakat Dengan   
          Gagasan dalam Suatu Puisi                            
            Sebelum menelaah sajian materi ini, bacalah puisi berjudul ‘”dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya” Karya hartojo andangdjaja di bawah ini.
            Apakah yang kupunya anak-anakku
            Selain buku-buku dan sedikit ilmu
            Sumber pngabdianku kepadamu
            Kalau di hari minggu engakau dating ke rumahku
Aku takut, anak-anakku
            Kursi-kursi tua yang di sana
            Dan meja tulis sederhana
            Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
            Semua padamu akan bercerita
            Tentang hidupku dirumahtangga
            Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
            Depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
-          horizon yang selalu biru bagiku –
karena kutahu anak-anakku
engakau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua.
           
Setelah membaca puisi di atas, dalam diri Anda tentu terbayang bagaimana kehidupan sosial suatu kelompok atau salah satu anggota masyarakat guru. Mereka yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan tentunya akan memaklumi bahwa kehidupan social masyarakat guru seperti yang digambarkan dalam puisi di atas memang benar-benar ada. Mungkin di masa lalu, atau bahkan masih ada di masa  sekarang. Dari contoh puiisi di atas, dapat diketahui bahwa hubungan antara kehidupan sosial masyarakat dengan gagasan dalam suatu puisi itu terlihat adanya hubungan. Seperti halnya hubungan antara gagasan dalam puisi dengan peristiwa kesejahteraan dengan kehidupan sosial masyarakat, puisi juga memiliki hubungan timbal balik. Adapaun maksud hubungan timbal balik itu adalah penyair dapat mengangkat kehidupan sosial masyarakat sebagai bahan penciptaan, dan puisi yang diciptakan mampu menggambarkan kembali kehidupan sosial masyarakat itu kepada masyarakat pembaca, serta memberikan sikap atau penilaian terhadapnya,  hal ini sesuai dengan pengertian pendekatan sosiopsikologi dalam mengapresiasi puisi. Adapun pendekatan sosiopsikologi adalah suatu pendekatan yang (1) berusaha memahami latar belakang kehidupan socsal masyarakat, baik secara individual maupun kelompok yang mempengaruhi terwujudnya suatu gagasan dalam puisi, (2) terwujudnya gagasan tentang kehidupan sosial masyarakat, baik secara individual maupun kelompok dalam suatu puiisi, dan (3) memahami sikap pengarang terhadap kehidupan sosial masyarakat yang dipaparkannya.

2.3.2 Unsur Kehidupan Sosial Masyarakat dalam Puisi 
Kehidupan sosial masyarakat, baik itu secara individual maupun kelompok, dapat menjadi bahan penciptaan suatu puisi. Corak kehidupan sosial masyarakat yang diangkat menjadi bahan penciptaan itu dapat beranekaragam. Mungkin dapat berupa  kebiasaan, pandangan hidup, maupun perilaku suatu masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan masalah politik, tetapi berhubungan dengan masalah kehidupan sosial.
            Secara umum, dapat dikemukakan bahwa dalam usaha menemukan unsur kehidupan sosial masyarakat serta sikap penyair 
1)  membaca puisi yang diapresiasi secara berulang-ulang untuk menemukan gambaran totalitas maknanya.
2)  menafsirkan dan menyimpulkan judul puisi, kata-kata, baris atau kalimat didalamnya.
3)  menafsirkan hubungan antara baris yang satu dengan baris yang lain untuk memahami satuan makna yang terdapat dalam sekelompok baris atau bait dalam puisi.
4)       mengidentifikasi unsur social kehidupan yang dikemukakan penyair.
5)       mengidentifikasi sikap penyair.
            Apabila kita mengidentifikasi unsur-unsur sosial kehidupan suatu masyarat lewat puisi, maka kita akan menemukan suatu masyarakat yang memiliki cirri-ciri:
1)    pikiran mereka beku, mereka menolak pembaharuan dan setia  memeluk tradisi tanpa koreksi atau evaluasi.
2)  kehidupan mereka bagai kehidupan orang kampong(an), senang membuat peraturan yang sebenarnya sepele dan tidak perlu dilakukan.
3)   masyarakat itu adalah sekelompok manusia yang sok tahu, mereka berbincang masalah kesusilaan, politik dan agama hanya karena mau di-wah.
4)       mereka suka main hakim sendiri.
5)       sesuatu yang tidk berarti, yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, yang enteng yang iseng justru mereka hargai.
6)     mereka asing dengan kegiatan kontemplasi untuk menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri serta untuk menemukan kebenaran yang hakiki.
7)  mereka menyikapi orang lain di luar kelompoknya dengan rasa curiga, dan bukan dengan rasa percaya dan cinta kasih.
Sehubungan dengan situasi demikian, sikap penyair sangat tegas. Ia tidak menyetujui pandangan dan prilaku masyarakat demikan, ia tidak menyatu di dalamnya karena ia ingin merdeka dan ingin menemukan dirinya sendiri. Apresiasi tentang unsure kehidupan sosial masyarakat dalam suatu puisi juga dapat berorientasi pada kehidupan seseorang sebagai bagian dari kelompok masyarakat. Hal ini tampak bila kita mengapresiasi suatu puisi lewat pendekatan sosiopsikologis yang sasarannya pada puisi-puisi yang mengandung pokok pikiran tentang kehidupan seseorang sejalan dengan pandangan hidupnya, profesinya, jenis kelamin, perilaku kehidupannya dan lain-lain.

2.3.3 Sikap Penyair Terhadap Corak Kehidupan Sosial Masyarakatnya
            Sikap seorang penyair terhadap corak kehidupan sosial masyarakat tempat ia berada, sikap tersebut mungkin berupa sikap keikhlasan, masa bodoh, tidak setuju serta berbagai macam sikap lainnya sesuai dengan kompleksitas pikiran penyair itu sendiri.
            Cara menentukan sikap penyair itu pada dasarnya tidak berbeda dengan cara memahami dan menemukan gagasan penyair sehubungan dengan corak kehidupan sosial masyarakat.

2.4 Struktur Batin
Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa                          adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang-gudang, rumah tua , pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada yang berlaut,
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam, ada juga kelepak elang
Menyinggung muram,desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi, aku sendiri, Berjalan
Menyisir semenanjung, masih penggap harap
Sekali tiba di ujung dan sekali selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa berdekap
(Chairil Anwar,1946)

Ditinjau dari struktur batin puisi,
1. Tema
Bertema tentang kedukaan karena kegagalan cinta atau cinta yang gagal sehingga menimbulkan kedukaan.
Jika kita uraikan bait demi bait, maka struktur tematik/struktur sintaksis sebagai berikut:
Bait 1
Penyair merasakan kehampaan hati karena cintanya yang hilang. Kenangan cinta sangat memukul hatinya sehingga hatinya mati setelah orang yang di cintainya pergi seperti kapal yang tidak berlaut hidupnya tiada berarti.
Bait 2
Duka hati penyair menambah kelemahan jiwa karna sepi, kelam, sehingga kelepak elang dapat didengar. Harapan bertemu dengan kekasihnya timbul tenggelam tetapi harus dilupakan karena cintanya tinggal bertepuk sebelah tangan dan menimbulkan kelukaan yang dalam.

Bait 3
Setelah mendengar  ia telah mempunyai seorang suami hingga harapannya di pertegas dengan “sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan”. Ratap tangis menggema sampai pantai keempat.

2. Nada
Penyair menceritakan kegagalan cintanya dengan nada ratapan yang sangat  mendalam, karena lukanya benar-benar sangat dalam.

3. Perasaan 
Perasaan penyair pada waktu menciptakan puisi merasakan kesedihan,
kedukaan, kesepian, dan kesendirian itu disebabkan oleh kegagalan cintanya. Bahkan sedu tangisnya menggumandang sampai ke pantai keempat karena kegagalan cintanya. Harapan untuk mendapatkan perempuan pujaannya diumpamakan sebagai ”pelabuhan cinta”.

4. Amanat 
Penyair inggin mengungkapkan kegagalan cintanya yang menyebabkan seseorang seolah-olah kehilangan segala-galanya. Cinta yang sungguh-sungguh akan menyebabkab seseorang menghayati apa arti kegagalan secara total.







BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Banyak orang terharu, terenyuh, atau terpukau ketika menikmati seuntai sajak atau puisi. Segi apakah yang menyebabkan puisi menarik perhatian orang? Berdasarkan penafsiran subjektif, jawaban pertanyaan itu dapat beraneka ragam. Persoalan yang dikemukakkan atau bentuk penyajian dapat menjadi pemyebab keindahan puisi. Namun, pada dasarnya isi dan bentuk atau tema dan struktur secara bersama-sama menjalin keindahan puisi. Kedua aspek itu merupakan kesatuan yang utuh yang saling mendukung, keserasian antara bunyi yang merdu, imajinasi yang dibangun, pemikiran yang dituangkan, watak yang dimunculkan, dan majas khas yang digunakan merupakan ramuan keapikan puisi.

3.2 Saran
Pembahasan dalam makalah ini hanya pembahasan Pemahaman unsur-unsur puisi ,unsur fisik dan unsur batin puisi, Sosiopsikologi dalam Puisi, perlu pembahasan yang lebih mendalam, karena memahami unsur unsur dalam puisi diperlukan kepekaan dan kecermatan untuk membedakan dan memahami makna  yang terkandung, dan disertai dengan contoh yang lebih lengkap, agar lebih mudah memahaminya.















Sabtu, 23 Juni 2012


I. PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
     Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Dikatakan sistematis karena bahasa memiliki kaidah atau aturan tertentu. Bahasa bersifat sistematis karena memiliki subsistem yakni subsistem fonologis, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikal. Ketiga subsistem ini bertemu dalam dunia bunyi dan dunia makna. Ketiga subsistem bahasa tersebut berkaitan dengan makna yang dikaji oleh semantik sedangkan sistem abhasa yang dihubungkan dengan alam di luar bahasa disebut pragmatik. Artinya, pragmatik berfungsi untuk menentukan serasi tidaknya sistem dengan pemakaian bahasa dalam komunikasi (Sudaryat, 2009:2).
     Pragmatik dan semantik sama-sama menggunakan makna sebagai isi komunikasi. Semantik berpusat pada pikiran sedangkan pragmatik berpusat pada ujaran (Sudaryat, 2009:120). Artinya, makna pada semantik melibatkan pikiran yang mendasarinya untuk menelaah proposisi-proposisi hubungan unsur bahasa dengan objeknya sedangkan makna yang dimunculkan oleh pragmatik berpusat pada ujaran yang diucapkan si penutur yang dihubungkan dengan hubungan unsur bahasa dengan para pemakainya atau tindak linguistik beserta konteks situasinya.
     Pragmatik berpusat pada wacana (teks) sebagai proses penggunaan bahasa secara efektif dan wajar untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu (Nababan dalam Sudaryat, 2009:120). Menurut Mey (dalam Rahardi, 2005:49).pragmatik adalah ilimu bahasa yang mempelajari kondisis penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang mewadahi dan melatarbelakangi bahasa itu. Jadi, pragmatik adalah studi ilmu bahasa yang menganalisis penggunaan bahasa secara efektif dalam berkomunikasi yang berdasarkan pada konteks yang mewadahi dan melatarbelakangi bahasa itu sendiri.
     Pengertian wacana telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Tarigan (1987:27) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan terbesar di atas klausa dan kalimat dan kohesi dan koherensi yang tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang disampaikan secara lisan atau tulisan. Namun, berbeda dengan pendapat di atas, Kartomihardjo dalam Nismarniati (2006:6) mengemukakan bahwa satu kalimat atau satu kata pun dapat disebut wacana.
     Wacana dapat berwujud sebagai bentuk buku, novel, atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Utami, 2000:35). Iklan merupakan salah satu bentuk wacana yang berupa kata-kata yang menarik terdapat dalam media massa, baik cetak maupun elektronik (audio visual) yang memiliki makna atau pesan. Agar makna atau pesan dapat samapai dengan baik, pembuat iklan harus mempertimbangkan prinsip-prinsip dalam berkomunikasi dengan sasarannya, seperti 1) prinsip kejelasan, 2) prinsip kepadatan, dan 3) prinsip kelangsungan. Sebagai tambahan, menurut Grice (dalam Rahardi, 2005:52) dalam berkomunikasi perlu mempertimbangkan prinsip kerja sama sehingga apa yang menjadi sasaran dapat dicapai bersama. Prinsip tersebut dapat berupa maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan.
     Sebagai ragam bisnis, bahasa iklan merupakan salah satu bentuk pemakaian bahasa yang bertujuan untuk meyakinkan konsumen agar tergerak untuk melakukan sesuatu seperti yang diinginkan oleh pengiklan (pesan). Oleh karena itu, bahasa iklan harus dibuat semenarik mungkin sehinggga konsumen tertarik untuk mencoba atau membeli produk yang ditawarkan. Contohnya iklan produk rokok yang berbunyi GUDANG GARAM 16, PRIA PUNYA SELERA. Kalimat tersebut didukung juga oleh gambar seorang pria tegap yang suka dengan olahraga yang penuh tantangan. Dari kalimat “pria punya selera” tersebut dapat memunculkan daya tarik, terutama di kalangan pria, bahwa apabila mereka membeli atau mengonsumsi produk tersebut maka mereka bisa tergolong pria yang memiliki selera yang tinggi dan suka akan tantangan yang berbahaya. Dari iklan di atas, prinsip kepadatan telah dipenuhi oleh si pembuat iklan, namun dari prinsip kejelasan dan kelangsungan hanya didukung oleh gambar yang ada di iklan rokok tersebut.
     Salah satu media massa yang sering menggunakan iklan adalah media cetak yaitu koran atau surat kabar harian. Iklan di media cetak khususnya di koran atau surat kabar harian sering menggunakan sedikit kata-kata dan dibantu dengan gambar yang cukup banyak. Seperti yang dinyatakan oleh Halliday dan Hasan (1992:66) bahwa secara tata bahasa teks tertulis sangat sederhana tetapi secara leksikal sangat padat, berlainan dengan bahasa tutur yang sopan. Dengan demikian, iklan yanga ada di harian cetak akan lebih cenderung memunculkan pelanggaran terhadap prinsip kerja sama antara penutur (iklan) dan si mitra tutur (pembaca iklan).
     Surat kabar harian yang sering memiliki iklan adalah Harian Sumatera Ekspres. Harian sumatera ekspres dijadikan objek penelitian karena merupakan harian terbesar yang ada di Sumatera Selatan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti, surat kabar ini merupakan surat kabar yang memiliki oplah tertinggi dari surat kabar yang ada di kota Palembang yaitu 73.000 eksemplar/hari dengan perincican 65% untuk kota Palembang dan 35% untuk tingkat kabupaten. Selain itu, pemilihan iklan sebagai kajian penelitian mengingat bahwa iklan merupakan alat pemasaran produk maupun jasa yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok bagi setiap orang pada saat ini sehingga perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa maupun produk membuat berbagai cara untuk masyarakat produknya melewati sebuah iklan. Dari berbagai cara, terkadang sebuah perusahaan tidak memperdulikan lagi tata cara berkomunikasi baik kepada saingan mereka maupun yang bukan saingan.

1.2   Masalah
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimanakah
pelanggaran prinsip kerja sama yang ada dalam iklan di surat kabar Sumatera Ekspres?
1.3   Tujuan Penelitian
     Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelanggaran prinsip
kerja sama yang ada dalam iklan di surat kabar Sumetera Ekspres.  

1.4   Manfaat Penelitian
     Hasil pengamatan ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan atau mengunakan teori-teori. sebelumnya dalam kajian pragmatik. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa sebagai bahan telaah dan analisis tentang aspek pragmatik terhadap sebuah wacana baik secara lisan maupun secara tulisan.




















II. PEMBAHASAN
2.1 Pragmatik
            Pragmatik menelaah hubungan tindak bahasa dengan konteks tempat, waktu, keadaan pemakainya, dan hubungan makna dengan aneka situasi ujaran. Dapat pula dikatakan bahwa pragmatik merupakan telaah mengenai kondisi-kondisi umum penggunaan komunikasi bahasa (Sudaryat, 2009:121).
            Tarigan (1990:32) menyatakan telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi cara kita menafsirkan kalimat disebut dengan pragmatik. Pendapat tersebut sejalan dengan Levinson (dalam Tarigan, 1990:33) yang mengatakan bahwa pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam dalam teori semantik, atau dengan kata lain; memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang diucapkan.
            Menurut Rahari (2005:49) pragmatik adalah studi bahasa yang mendasarkan pijakan analisisnya pada konteks. Konteks yang dimaksud adalah segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadahi sebuah petuturan.
Dengan demikian, pragmatik merupakan kajian dari bahasa karena ia merupakan bagian dari performansi linguistik yang mengkaji makna tersebut dilihat dari pertimbangan konteks yang ada pada saat itu disamping memperhatikan semantik dan sintaksis dari sebuah bahasa.
            Menurut Grice dikutip cahyono (1996:221) prinsip kerja sama dalam berkomunikasi merupakan teori dari implikatur. Maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu adalah maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan.



2.2 Prinsip Kerja Sama
            Agar pesan (message) dapat samapi dengan baik pada peserta tutur, komunikasi yang terjadi  itu perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya prinsip kerja sama Grice. Prinsip kerja sama Grice itu seluruhnya meliputi empat maksim yaitu 1) maksim kuantitas (maxim of quantity), 2) maksim kualitas (maxim of quality), 3) maksim relevansi (maxim of relevance), dan 4) maksim pelaksanaan (maxim of Manner).
a. Maksim Kuantitas (The Maxim of Quantity)
            Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi sedemikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan si mitra tutur. Tuturan yang tidak mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dapat dikatan melanggar maksim kuantitas melanggar maksim kuantitas dalam prinsip kerja sama Grice. Demikian sebaliknya, apabila tuturan itu mengandung informasi yang berlebihan akan dapat melanggar maksim kuantitas.
Contoh:
1.       “Lihat itu Cris Jhon mau bertanding lagi.”
2.       “Lihat itu Cris Jhon yang mantan petinju kelas berat itu mau bertanding lagi.”

Informasi indeksial:
            Tuturan 1 dan 2 dituturkan oleh seorang pengagum Cris Jhon kepada rekannya yang juga mengagumi petinju legendaris itu. Tuturan itu dimunculkan pada waktu mereka bersama-sama melihat salah satu acara tinju di televisi.
Tuturan 1 merupakan tuturan yang sudah jelas dan sangat informatif isinya karena tuturan itu sudah dapat dipahami maksudnya dengan baik dan jelas si mitra tutur. Penambahan informasi pada tuturan 2 justru menyebabkan tuturan menjadi lebih panjang dan berlebihan. Sesuai dengan garis kamsim, tuturan 2 di atas tidak mendukung atau bahkan melanggar prinsip kerja sama Grice (Rahardi, 2005:53-54).
b. Maksim Kualitas (The Maxim of Quality)
            Dengan maksim kualitas, seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata sesuai fakta sebenarnya di dalam bertutur. Fakta itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas. Tuturan 1 dan tuturan 2 pada bagian berikut dapat dipertimbangkan untuk memperjelaskan pernyataan ini.
1.       “Silahkan mencontek saja biar nanti saya mudah menilainya!”
2.       “Jangan mencontek, nilainya bisa E nanti!”

informasi Indeksial:
            Tuturan 1 dan tuturan 2 dituturkan oleh dosen kepada mahasiswanya di dalam ruang ujian  pada saat ia melihat ada seorang mahasiswa yang sedang berusaha melakukan penyontekannya.
Tuturan 2 jelas lebih memungkinkan terjadinya kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. Tuturan 1 dikatakan melanggar maksim kualitas karena penutur mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang seharusnya dilakukan seseorang. Akan menjadi suatu kejanggalan apabila di dalam dunia pendidikan terdapat seorang dosen yang mempersilahkan para mahasiswanya melakukan penyontekan pada saat ujian berlangsung (Rahardi, 2005:55).

c. Maksim Relevansi (The Maxin oh Relevance)
            Di dalam maksim relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama.
Contoh:
Sang Hyang tunggal      : “Namun sebelum kau pergi, letakkanlah kata-kataku
                                       ini dalam hati!”
Semar                           : “Hamba bersedia, ya dewa.”

Informasi indeksial:
            Tuturan ini dituturkan oleh Sang Hyang Tunggal kepada tokoh Semar dalam sebuah adegan perwayangan.
Contoh di atas dapat dikatakan mematuhi dan menepati maksim relevansi. Dikatakan demikian karena apabila dicermati secara mendalam, tuturan yang disampaikan oleh Semar adalah : Hamba bersedia ya Dewa,” benar-benar merupakan tanggapan atas perintah Sang hayang Tunggal yang dituturkan sebelumnnya yakni “Namun, sebelum kau pergi, letakkanlah kata-kataku ini dalam hati.” Dengan perkataan lain, tuturan itu patuh dengan maksim relevansi dalam prinsip kerja sama Grice.
            Perhatikan tuturan berikut ini antara seorang kepala sekolah dengan guru pada contoh berikut ini.
            Kepala Sekolah : “Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda
                                      Tangani dulu!”
            Guru                 : “Maaf Bu, Kasihan sekali nenek itu.”

Informasi indeksial:
            Dituturkan oleh seorang kepala sekolah kepada guru pada saat mereka bersama-sama bekerja di sebuah ruang kerja kepala sekolah. Pada saat itu itu ada seorang nenek tua yang sudah menunggu lama.
Dalam cuplikan tersebut tampak dengan jelas bahwa tuturan sang guru, yakni “Maaf Bu, kasihan sekali nenek tua itu” tidak memiliki relevansi dengan apa yang diperintahkan sang direktur, yakni “ bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani!” Dengan demikian tuturan tersebut sebagai salah satu bukti bahwa maksim relevansi dalam prinsip kerja sama tidak selalu harus dipenuhi dan dipatuhi dalam penuturan sesungguhnya, (Rahardi, 2005:57).

d. Maksim Pelaksanaan (The Maxim of Manner)
            Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur. Orang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama Grice karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan.
Contoh:
            A  : “Ayo cepat dibuka!”
            B  : “Sebentar dulu, masih dingin.”

            Tuturan di atas memiliki kadar kejelasan yang rendah. Karena berkadar kejelasan yang rendah dengan sendirinya kadar kekaburannya menjadi sangat tinggi. Tuturan A “Ayo. Cepat dibuka!” sama sekali tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh si mitra tutur. Kata dibuka dalam tuturan tersebut mengandung kadar ketaksaan dan kekaburan sangat tinggi. Oleh karenanya, maknanya pun menjadi sangat kabur. Demikian pula tuturan yang disampaikan oleh penutur B yakni :Sebentar dulu,  masih dingin” mengandung kadar ketaksaan cukup tinggi. Kata dingin pada tuturan itu dapat mendatangkan banyak kemungkinan persepsi penafsiran karena di dalam tuturan itu tidak jelas apa sebenarnya yang masih dingin itu. Tuturan seperti itu dapat dikatakan pelanggaran prinsip kerja sama karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan dalam prinsip kerja sama Grice (Rahardi, 2005:57).

2.3 Iklan
            Wright (dalam Liliweri, 1992:20) mengatakan bahwa iklan adalah suatu proses komunikasi yang memiliki kekuatan yang sangat penting sebagai alat pemasaran yang membantu menjual barang, memberikan layanan serta gagasan atau ide melalui saluran tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (2005:34) iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membuat khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan, dipasang di media massa (seperti surat kabar atau majalah) atau di tempat umum. Jadi, iklan adalah suatu bentuk komunikasi yang berupa penawaran barang atau jasa yang ditawarkan kepada khalayak dan dipasang di media massa (seperti surat kabar atau majalah) atau di tempat umum dalam bentuk informasi yang persuasif.

2.4 Jenis Iklan 
            Menurut Brovee (dikutip Liliweri, 1992:36) pembagian iklan berdasarkan khalayak sasaran psikografis adalah:
  1. Iklan untuk Konsumen
            Adalah iklan yang secara khusus disebarluaskan melalui media     massa tertentu untuk para pemakai suatu produk baik barang          maupun jasa.
  1. Iklan untuk Bisnis
            Adalah ikan yang diarahkan khusus kepada mereka yang    mempunyai bisnis, usaha dagang yang berkaitan dengan produk     tersebut. Iklan ini kadang-kadang juga menggunakan media massa.             Namun, para pengusaha lebih suka mengeluarkan media melalui humas.
            Contoh:
                         Informasi tentang produk disalurkan melalui prospek                                                      Perusahaan,  bulletin, pamplet, dan pameran hasil.

2.5 Bentuk Bahasa Iklan
            bentuk bahasa iklan menurut Arifin (dalam Susianti, 2002:12) terbagi menjadi 2 bagian yaitu:
  1. Iklan Bentuk Frasa
            Iklan berbentuk frasa biasanya dilengkapi dengan gambar barang yang diiklankan dan dapat ditemukan pada papan reklame di           pinggir jalan.
            Contoh:
                        iklan penawaran alat telekomunikasi seperti handphone.



  1. Iklan Berbentuk Kalimat
            Iklan yang disajikan dalam bentuk kalimat terbagi beberapa kelompok yaitu iklan dalam bentuk kalimat tunggal, iklan dalam          bentuk kalimat majemuk setara, iklan dalam bentuk kalimat   majemuk bertingkat, dan iklan dalam bentuk kalimat majemuk   campuran.

3. Metodologi Penelitian
3.1 Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskrifptif. Menurut Hariwijaya (2008:22) metode deskriptif adalah metode yang digunakan dalam penelitian yang bertujuan untuk meneliti dan menemukan informasi sebanyak-banyaknya dari suatu fenomena. Penelitian ini dapat dilakukan dengan menggunakan satu jenis variabel. Jadi, penelitian ini akan mengkaji aspek pragmatik dari iklan yang ada di harain sumatera ekspres untuk mengetahui dan menemukan informasi-informasi berupa pelanggaran prinsip kerja sama yang ada dalam iklan tersebut.

3.2 Sumber Data
            sumber data adalah penelitian adalah subjek dari mana dapat diperoleh (Arikunto, 2002:107). Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari iklan, misalnya iklan handphone, iklan elektronik, iklan otomotif, dan iklan makanan, yang ada dalam harian Sumatera Ekspres Edisi November 2011 yang terbit setiap hari.

3.3 Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan teknik catat. Teknik dokumentasi adalah teknik untuk mencarai data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2002:206). Dengan demikian, teknik dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan iklan yang ada di harian Sumatera Ekspres edisi November 2011. Selain teknik dokumentasi, penelitian ini menggunakan teknik catat. Teknik catat dilakukan dengan pencatatan data pada kartu data yang selanjutnya dengan klasifikasi data (Sudaryanto, 1993:135-136). Dalam penelitian ini teknik catat dilakukan dengan mencatat iklan-iklan yang ada di harian Sumatera Ekspres yang memiliki unsur pelanggaran prinsip kerja sama Grice dalam iklan tersebut.

3.4 Teknik Analisis Data
            Teknik yang digunakan dalam  analisis data adalah teknik dasar yang terdapat dapat metode padang. Teknik dasar ini menggunakan teknik. Pilah Unsur Penentu (PUP) dengan daya pilah pragmatik, yakni teknik membagi satuan lingual berdasarkan konteks pragmatik (Sudaryanto, 1993-22). Teknik ini digunakan untuk membagi satuan lingual berupa wacana iklan berdasarkan segi pragmatik berdasarkan prinsip kerja Grice. Adapaun langkah-langkah dalam menganalisis data adalah sebagai berikut::
1.      Mengumpulkan semua iklan yang terdapat di harian Sumatera Ekspres edisi Agustus 2011.
2.      Memilih data yang berupa iklan berdasarkan khalayak sasaran yaitu iklan untuk konsumen, misalnya iklan handphone, iklan makanan, dan iklan jasa.
3.      Semua iklan dikumpulkan, kemudian tuturan tertulis dalam iklan dianalisis dari aspek pragmatik berupa prinsip kerja sama Grice. Adapun prinsip kerja sama Grice itu terdiri dari maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan.
a.      Sebuah data dimasukkan dalam kelompok maksim kuantitas apabila tuturan dalam iklan tersebut telah memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin. Apabila kriteria tersebut tidak terpenuhi atau terlalu berlebih, iklan tersebut melanggar maksim kuantitas.
b.      Sebuah data dimasukkan dalam kelompok maksim kualitas apabila tuturan dalam iklan tersebut telah memberikan sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta sebenarnya di dalam bertutur. Apabila kriteria tersebut tidak terpenuhi, iklan tersebut melanggar maksim kualitas.
c.      Sebuah data dimasukkan dalam kelompok relevansi tuturan dalam iklan tersebut terdapat kontribusi antara penutur dan penutur. Apabila tidak memunculkan kontribusi, iklan tersebut tidak memenuhi atau melanggar maksim relevansi.
d.      Sebuah data dimasukkan dalam kelompok maksim pelaksanaan apabila tuturan dalam iklan tersebut terdapat pengertian langsung, jelas, dan tidak kabur. Apabila tidak meminculkan pengertian langsung, jelas, dan tidak kabur, iklan tersebut tidak memenuhi atau melanggar maksim pelaksanaan.
4.      Iklan dikelompokkan berdasaran maksim-maksim yang telah disebutkan di atas.
5.      Membuat kesimpulan.

4. Hasil Pembahasan 
            Agar  pesan (message)  dapat sampai dengan baik pada peserta tutur dalam sebuah iklan, komunikasi yang terjadi itu perlu mempertimbangkan pinsip-prinsip. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya prinsip kerja sama Grice. Prinsip kerja sama Grice ini seluruhnya meliputi empat maksim yaitu 1) maksim kuantitas (maxim of quantity), 2) maksim kualitas (maxim of quality), 3) maksim relevansi (maxim of relevance), dan 4) maksim pelaksanaan (maxim of manner).

a. Maksim Kuantitas (maxim of quantity)
            Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relative memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi sedemikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan si mitra tutur. Tuturan yang tidak mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas dalam prinsip kerja sama Grice (Rahardi, 2005:53).
Contoh 1
            SOLUSI CERDAS PUNYA RUMAH
            DENGAN MUDAH
            DP BISA DICICIL
            ANGSURAN HANYA RP.40 RIBUAN/HARI
            SAKO VILLAGE harga mulai 148 juta, BANDARA PERMAI harga mulai    144       juta, KENTEN VILLAGE harga mulai 146 juta, Palim Residance harga mulai    288 juta.
            DEVELOPER: PT SAHABAT MULIA
              
               Dari iklan propety (perumahan) di atas, informasi yang diperoleh adalah bahwa apabila ingin membeli rumah dilokasi yang telah ditentukan. Informasi oleh si penutur merupakan informasi yang ridak melebihi informasi yang dibutuhkan oleh mitra tutur. Berbeda dengan iklan berikut ini.
Contoh 2
            SAKO 2 GARDEN
            HUNIAN MODERN ASRI DAN ALAMI
            Desain rumah modern
            Berada di kawasan yang sudah ramai
            Lokasi strategis, mudah dijangkau
            Developer: PT GRIYA SENTAUSA JAYA
            Dari wacana iklan property di atas, si penutur tidak memberikan informasi penting atau pokok dari perumahan yang ditawarkan misalnya harga dan cara pembayarannya kepada di mitra tutur (pembaca). Si penutur hanya memberikan informasi yang tidak terlalu penting bagi si mitra tutur misalnya desain rumah, penataan areal, dan sebagainya. Dengan demikian, pada contoh 1 telah memenuhi maksim kuantitas (maxim of  quantity) karena informasinya cukup, relatif memadai, dan informatif. Namun, contoh iklan 2 merupakan contoh iklan yang melanggar maksim kuantitas karena informasinya yang diberikan si mitra tutur tidak mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan oleh mitra tutur (konsumen property).

b. Maksim Kualitas (Maxim of Quality)
            Maksim kualitas merupakan maksim yang dimunculkan oleh peserta tutur dengan harapan bahwa si petutur menyampaikan sesuatu yang nyata sesuai dengan fakta yang sebenarnya di dalam bertutur (Rahardi, 2005:55).
Contoh 3
            PT DAYA CIPTA SARANA
            Main Dealer Mobil Suzuki Wilayah Sum-Sel dan Bengkulu
            Motot Paling Irit se-Indonesia
            1  liter = 75 km
            Sumber: Lomba Irit Wartawan tanggal 11 Mei 2011 di Jogjakarta             
            Motor Smash tetand
            5000 km NONSTOP
            Uji Ketahuan 15-17 Mei 2010
            Sirkuit Sentul
            Telah tercata dalam rekor MURI 2011
           
            Berdasarkan wacana iklan di atas, penutur memberikan banyak fakta untuk mendukung atau menyatakan tentang iritnya motor suzuki Smash tetand. Fakta-fakta itu didukung oleh berbagai sumber yaitu sepeda motor ini pernah mengikuti lomba irit wartawan tanggal 11 Mei

2011 di Yogyakarta, pernah mengikuti kegiatan Motor Paling Kuat se-Indonesia Smash Tetand suzuki Jelajah negeri 2011, Suzuki Smash Tetand 5000 km nonstop Uji ketahanan 15-17 Mei 2010 di Sirkuit sentul, dan telah tercatat di dalam rekor MURI 2010. berbeda dengan contoh iklan berikut ini.
Contoh 4
            MITSHUBISHI MOTORS
            MITSUBISHI COLTT120SS
            SI TANGGUH UNTUK BISNIS JURAGAN
            Bandel, Irit, dan Kuat Ngangkut Banyak
            Dengan ban Radial dan dilengkapi CD/Mp3 Player
            Bandel dan irit, Tangguh dan nggak rewel, dan banyak muatannya

            Berdasarkan wacana iklan di atas, terdapat ujaran “bandel, irit, dan kuat ngangkut banyak”, Namun, ujaran tersebut tidak dibuktikan dengan fakta-fakta misalnya mengapa mobil ini bisa irit, mengapa mobil ini muatannya banyak, dan mengapa dikatakan bandel. Berdasarkan dua contoh iklan tersebut, maksim kualitas terpenuhi dalam wacana iklan pada contoh 3 karena setiap ujaran dibuktikan dengan fakta-fakta, sedangkan contoh 4 merupakan pelanggaran pada maksim kualitas karena informasi yang disampaikan oleh penutur tidak disertakan dengan fakta.

c. Maksim Relevansi (Maxim of Relevance)
            di dalam maksim relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama (Rahardi, 2005:56).


Contoh 5
            CSL Blueberry 
            “Pilih yang saya pilih” Agnes Monica
            Harga Rp. 499 ribu
           
            Berdasarkan wacana iklan di atas, relevansi tidak muncul dari tuturan tersebut. Ketika ada tuturan “CSL Blueberry” tuturan berikutnya adalah “pilih yang saya pilih, Agnes Monica”. Dengan kata lain “pilihlah yang saya pilih”, Agnes Monica tidak memiliki relevansi dengan ujaran sebelumnya yaitu “CSL Blueberry. Dengan demikian tuturan tersebut sebagai salah satu bukti bahwa maksim relevansi dalam prinsip kerja sama tidak selalu harus dipenuhi dan dipatuhi dalam pertuturan dalam iklan.
Contoh 6
            Anak-anak dan bahasa Inggris
            Adalah investasi yang tak ternilai
            ... hanya jika Anda memilih
            Kursus bahasa Inggris yang tepat bagi mereka
            Junior
            English for Elementary School Students, aged 6 ti 13
            www.junior.co.id

            Namun, pada iklan di atas maksim relevansi muncul. Dalam konteks iklan tersebut, penutur memeberitahukan kepada si mitra tutur bahwa anak-anak dan bahasa Inggris adalah sebuah investasi dan sebagai jawabannya anak-anak dapat dicarikan tempat bahasa Inggris yang tepat sehingga nilai anak sebagai investasi berhasil. Dengan kata lain tuturan yang ada di dalam iklan di atas patuh dengan maksim relevansi dalam prinsip kerja sama Grice.

d. Maksim Pelaksanaan (Maxim of Manner)
            maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta petuturan bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur. Orang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama Grice karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan (Rahardi, 2005:57).
Contoh 7
            Internetan sepuasnya!!!
            Mulai dari Rp.195 ribu/bulan
            Siapapun anda, tersedia paket internet sesuai kebutuhan Anda.

            Dari wawancara iklan di atas, tuturan yang ada memiliki kadar kejelasan yang sangat rendah. Dalam tuturan yang berbunyi “mulai dari Rp.195 ribu/bulan” mengandung kekaburan yang cukup dingin. Tuturan tersebut mendatangkan banyak kemungkinan persepsi penafsiran karena di dalam tuturan itu tidak jelas apa maksud dari mulai dari 195 ribu per bulan, apakah biaya beban dalam berinternet, apakah biaya pemasangannya, dan sebagainya.
















III. PENUTUP
3.1 Simpulan
            Apabila dikaitkan dengan prinsip kerja sama Grice, maka iklan yang ada di harian Simatera Ekspres mengandung unsur maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan. Semua maksim itu hadir, namun, yang paling dominan dalam setipa iklan tersebut adalah maksim kuantitas dan maksim kualitas. Namun, tidak menutup kemungkinan ada juga beberapa iklan yang melanggar maksim kerja sama Grice yaitu pada maksim kualitas contohnya pada iklan property.

3.2 Saran
            Pengkajian dalam pengamatan ini hanya kajian aspek pragmatik yang sangat kecil yaitu hanya pada pelanggaran prinsip kerja sama Grice. Perlu pengkajian lebih dalam lagi mengenai unsur tersebut dengan mengaitkan dengan koherensi wacana iklan itu sendiri. Proses penafsiran maknanya harus melalui proses inferensi, interpretasi lokal, analogi, dan konteks. Selain itu, bisa juga dikaitkan dengan prinsip kesantunan Robin Lakoff.